Anak
Kampung Belajar Seni Peran
Tulisan ini terdapat pada buku Anak Kampung Bikin Teater yang merupakan sebuah buku memoar Teater Trotoar, Jakarta Timur. Buku ini insha allah akan segera launching dalam waktu dekat.
Anak Kampung Belajar Seni Peran
Oleh Nino Enjo
Memasuki ruang latihan
dengan pikiran yang kosong dan hati yang masih berkecamuk, mau diajar apa?
Beragam pertanyaan berseliweran di benak saya. Para senior Trotoar semua hadir,
perkenalan demi perkenalan, pengarahan demi pengarahan berlangsung formal, visi
misi dan tujuan sudah dipaparkan, tidak ada yang berkesan. Masuk sesi pelatihan
olah tubuh, hanya seperti pemanasan biasa sebelum kita melakukan olah raga
sesungguhnya, pikir saya. Pulang ke rumah dengan badan letih. Minggu berikut
hal yang sama dilakukan. Minggu
berikutnya ditambah dengan berteriak teriak seperti orang gila.
Perkenalan dengan sosok sutradara adalah minggu-minggu berikutnya. Sosok
lelaki ganteng – sedikit baby
face – berambut panjang, kadang diurai kadang diikat. Mengenakan baju kebesarannya
berwarna putih, celana komprang putih. Bersendal tali kulit dan selalu datang
membawa tas kulit coklat di bahunya. Terlebih saat latihan malam di parkiran,
dengan lampu jalan temaram. Taxi datang menurunkan sosok yang sudah kita kenali
dengan kostum putih-putihnya, sangat kontras dengan gelap malam saat itu,
kehadirannya selalu ditunggu. Kesenimanannya tersirat jelas dengan tampilan
slayer tenun di lehernya dan kaca mata Rayben.
Kharismanya dapat dirasakan dari reaksi para senior yang menghormati beliau.
Kecerdasannya terpancar dari jidatnya yang lebar, matanya yang tidak besar, dan giginya yang
putih rapih. Makin jelas lagi saat memberikan paparan apa pun itu. Kita para
junior seperti haus akan ilmu, meminum apa yang diucapkan. Menyimak semua
wacana yang diungkapkan.
Sebulan berlalu kita baru dikasih potongan naskah, karena tidak ada judul
di halaman depan dan hanya beberapa lembar. Diajarkan membaca dan diajarkan mengucap,
laiknya anak sekolah pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia. Bedanya membaca dan mengucapkan harus dengan “rasa”.
Berulang-ulang seperti anak idiot yang merekam satu kata dan diucapkan
berulang-ulang. Rupanya cara ini untuk mengetahui dan merasakan perbedaan
intonasi yang keluar dari mulut, agar kita bisa memaknai apa yang kita ucapkan.
Pulang ke rumah dengan rasa penasaran ingin segera berlatih lagi minggu depan.
Minggu berikutnya sebuah naskah
diedarkan untuk dimiliki. Naskah Perguruan, saya belum mengerti siapa
pengarangnya. Saya baca dimana ada nama-nama tokoh dan dialog tokoh tersebut.
Saya tidak mendapat peran tokoh saat itu, karena masih “anak bawang”. Peran
saya sebagai santri/pasukan Tuanku Nan Renceh. Mendengar dan menyimak setiap
sesi reading naskah, sudah sangat
menarik bagi saya. Mendengar teman-teman senior membacakan perannya dengan intens dan semangat, merupakan pelajaran
duplikasi bagi pribadi. Keinginan mendapat dan membaca peran adalah keinginan
bawah sadar, hal ini baru bisa terwujud bila ada rekan yang tidak hadir
latihan. Dengan senang hati dan bersemangat membacakan peran tersebut. Inilah
nasib “anak bawang”, anak kampung yang belajar seni peran.
Eksplorasi Seni
Peran
Berjalannya waktu pelajaran tentang
seni peran betambah, dalam hal eksplorasi seni peran, para senior “menggembleng”
anak-anak junior (anak kampung yang buta apa itu akting/seni peran), dengan
pelatihan olah tubuh yang awalnya hanya gerakan-gerakan pemanasan. Mulai dari
ujung kaki terus merambah sampai ke kepala, semua digerakan satu persatu dilakukan
secara berurutan. Memasuki minggu-minggu berikutnya mulai meningkat, durasi latihan
olah tubuh pun ditambah. Pola gerakan juga semakin berkembang. Kita para junior
diberi pemahaman akan tujuan olah tubuh yang sebenarnya. Bahwa olah tubuh yang
dilakukan bukan hanya menjadikan tubuh kuat, tetapi juga menjadi lentur, luwes
dan ligat; demikian paparan pemahaman yang disampaikan mentor.
Caci-maki mentor senior menjadi
makanan yang harus ditelan sebagai pil pahit untuk obat bagi jiwa yang
‘cengeng’ saat itu. Karena para senior ada beberapa orang yang selalu simultan
bergantian menjadi mentor, maka beragam pula serapah yang dilontarkan. Tidak sedikit yang rekan-rekan yang beralasan
datang terlambat pada sesi olah tubuh, lalu datang saat sudah reading naskah. Bahkan beberapa peserta
tidak hadir lagi, mundur dari keanggotaan. Begitu kerasnya latihan teater,
betapa sakitnya hati ini bila kita melakukan kesalahan. Namun secara tidak
langsung seperti seleksi alam, mereka yang cinta dan fokus pada seni peran tak akan
gentar.
Keingintahuan saya akan seni peran
lebih besar dari pada beratnya latihan olah tubuh. Pernah suatu waktu saya
mengalami gelap mata saat berlatih, tubuh ini limbung tapi tidak sampai
pingsan. Dengan merambat pada dinding gedung Sasana Krida saat itu, alaram
biologis saya menuntun saya menuju ke toilet. Dengan mata masih terpejam,
bertanya pada Solihin – anak penjaga gedung – di mana pintu toilet?. Paska proses “pembersihan” kondisi kembali
normal kembali. Sungguh tidak mudah.
Dari minggu ke minggu pelatihan
olah tubuh terus meningkat, kecintaan akan seni peran pun bertambah. Pemahaman
demi pemahaman terus dituangkan oleh para mentor. “Jika militer menyiapkan senjatanya
untuk berperang, maka seniman menyiapkan tubuhnya untuk berada di atas
panggung.” Demikian perumpamaan yang didengungkan oleh para mentor dalam
menguatkan mental dan mengentalkan pemahaman para anak kampung seperti saya saat
itu.
“Tubuh ini harus dimaksimalkan
sedemikian rupa agar bisa dikendalikan. Jadikan tubuh ini seperti ‘spons’ agar bisa
menyerap apa saja yang melintas di pikiran dan di sekeliling kita”, ujar Jarwo
Jilid. Bukan tidak dengan tanpa tujuan latihan-latihan keras yang diterapkan
para senior kepada para junior. Dalam sesi-sesi diskusi – seusai latihan –
diterangkan bahwa bahasa di atas
panggung bukan cuma kata yang diucapkan, tetapi tubuh kita pun menjadi kata.
Bahasa tubuh menjadi bahasa kedua setelah kata.
Karena tubuh adalah bahasa, maka
kita harus memahami setiap anggota tubuh saat digerakan. Gerakan-gerakan saat warming up oleh senior dijabarkan fungsi
dan manfaatnya secara detail. Sungguh menarik, mungkin bagi orang lain akan
terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi saya ini merupakan “pedalaman”, sama seperti jalan pedang bagi samurai dalam
buku Musasi.
Saat itu terminologi yang dipakai
adalah: Gerak dan Gerik. Gerak adalah gerakan/tindakan yang besar-besar seperti
melompat, berlari, merentangkan tangan; sedangkan Gerik adalah gerakan/tindakan
yang kecil-kecil seperti memainkan kuku jari, menggaruk, melirik, mengangguk
atau menolehkan kepala perlahan.
Berlanjut latihan menuju
“pendalaman” yang paling dalam, mengisi “ruh” pada setiap gerakan anggota
tubuh. Bukan hal gampang, awal-awal memahami pelajaran seperti itu, bagi anak
kampung seperti saya. Ada terbersit di hati, apakah ini akan bersinggungan dengan agama. Maka diterangkanlah secara perlahan-lahan
untuk bisa dapat dipahami. Ada dua proses yang harus dilalui: “Merasakan” dan “Mengendalikan” kedua kata itu merupakan kata kunci,
bagaimana cara mengisi “ruh” dari setiap gerakan anggota tubuh.
Melalui meditasi ala teater, yaitu
dengan memejamkan mata dan mengosongkan pikiran dari semua aktivitas otak. Kita
digiring untuk menuju sebuah “kekosongan” itu. Hal ini tidak mudah, namun
karena terus dilatih dan dituntun oleh para mentor, secara bertahap kita dapat mengerti hal itu. “Kekosongan” itu menggiring
pikiran terfokus penuh menuju konsentrasi yang kuat dan stabil. Semakin fokus semakin
kosonglah pikiran, maka saatnya melepas keinginan tubuh untuk bergerak sendiri kemana
pun ia maui. Kami diminta – mentor – untuk terus mengikuti dan menikmati setiap
pergerakan yang dilalui. Detik detik itu, adalah proses kita “merasakan” tubuh
tanpa dikendalikan oleh pikiran. Tetapi oleh ‘rasa’ yang entah dari mana? Saya merasakan keindahan yang menggeliat di
dalam diri, merasuk ke dalam darah, menggetarkan syaraf dan memancing otot
bergerak. Ada irama dan bunyi-bunyian dari dalam jiwa yang menuntun tubuh ini bergerak dalam keindahan dan
kenyamanan. Kadang ia bergerak lembut dan smooth,
kadang ia menghentak-hentak seperti orang kerasukan. Sampai daya tak ada lagi, hingga
lelah-lah yang menghentikan tubuh lunglai jatuh ke lantai, dan dengan masih
memiliki kesadaran penuh. Proses tersebut memberi sensasi baru bagi saya dan
bahkan otak ini seperti di-refresh,
kembali segar dan siap dimasuki pelajaran-pelajaran berikutnya.
Pelatihan semacam itu merupakan
pelajaran yang berharga bagi kami anak kampung yang buta tentang seni peran.
Pelajaran tersebut kami dapatkan lebih kurang 8 minggu, hingga kami mahir memasuki
ruang bawah sadar kami masing masing.
Pelajaran pun berlanjut, jika kita
sudah dapat “Merasakan” tubuh bergerak tanpa kendali pikiran, maka pelajaran
berikutnya adalah: “mengendalikan” tubuh
ini dengan pikiran yang kita inginkan. Proses yang dilakukan adalah mengisi
ruang-ruang imaji (ruang-ruang bawah sadar) kita. Secara teori yang dipaparkan
para mentor terdengar sangat mudah. Sebab kita sudah mempraktekkan pada pelajaran
“Merasakan” sebelumnya.
Akan tetapi ada halangan
tersendiri untuk menerobos dan memasukkannya imaji-imaji yang belum pernah kita
pikiran ke dalam alam bawah sadar kita. Hal ini terbaca oleh para mentor dalam
pengamatannya, apa yang kita tampilkan: “mentah, belum menyatu”. Mereka jeli
melihat hasil proses yang kita lakukan, karena imaji-imaji yang kita bayangkan
hanya kamuflase-kamuflase dari pikiran-pikiran yang saling menumpuk di dalam kepala:
masalah pribadi, masalah keluarga, masalah gebetan, cari kerjaan, dari pagi
belum ngopi, belum ngerokok dan segudang
lagi lainnya.
Perlu waktu berminggu-minggu untuk
bisa memahami dan mempraktekkannya. Segala yang dilakukan dengan serius dan
fokus, memberi hasil yang baik. Itulah
yang kita lakukan saat itu. Memasukki ruang bawah sadar seperti menikmati
perjalanan di dalam ruang imaji. Keasyikan ini menjerumuskan prilaku menjadi
ketidak-warasan, meski masih dalam koridor kewajaran. Tetap saja orang lain
yang melihatnya sebuah ‘kegilaan’. Kita mau jadi apa saja dan kita mau ke mana
saja, tidak ada lagi halangan. Tidak ada lagi ke-takut-an, tidak ada lagi
ke-malu-an untuk melakukan apa saja. Hal ini pun sampai terbawa pulang ke rumah. Keluarga dan tetangga hanya
berceloteh “wis edan!”.
Latihan-latihan olah tubuh yang
keras, telah melenturkan tubuh-tubuh kami yang kaku bagai beton sebelumnya.
Tubuh kami tidak hanya lentur, luwes dan ligat, tetapi telah “diisi” dengan
pemahaman dan keindahan. Sehingga setiap gerakan punya tujuan, setiap tindakan
punya makna. GESTURE TUBUH itu yang kita dapatkan untuk bisa memasuki dunia
Seni Peran.
Seni Peran adalah seni berganti
peran, memainkan diri kita menjadi orang lain. Bagaimana caranya? Latihan
“Merasa” adalah jawaban untuk memasuki diri kita ke dalam peran. Membuka “kanal-kanal’
empatik kita terhadap peran tersebut. Informasi itu kita dapat dari bangunan
cerita, atau dari sumber-sumber di luar naskah. Papar beberapa mentor dalam
diskusi-diskusi kecil kami.
Latihan menjadi burung, latihan
menjadi pohon, latihan menjadi batu, jadi bangku, jadi kodok, jadi ayam dan
lain sebagainya. Rupanya untuk membuka reseptor indera empatik kita terhadap
sesuatu di luar diri. Kemampuan bawah sadar ini yang tidak kami sadari sebagai
anak kampung. Padahal kalau kita menonton film yang sedih, kita akan terbawa
arus kesedihan. Jadi latihan ini untuk membuka dan mengendalikan stimulus
lingkungan/situasi yang ada di dalam dan di luar diri kita. Setelah mengetahui
maka yakinilah. Meyakinkan apa yang sudah kita ketahui sangat penting. Bahkan menjadi
kata kunci: YAKIN.
Pada sesi-sesi latihan berikutnya
kami di beri pelajaran tentang YAKIN. Lebih tepatnya PERCAYA. Ketika kita
percaya sesuatu, akan muncul keyakinan akan sesuatu. Secara teoritis kami hanya
bisa mengerti, tapi belum bisa memahami dan merasakannya. Mentor-mentor kami
memberikan peragaan yang sangat sederhana, tetapi sangat mengena dan
mempengaruhi psikologi kami. Kami
berdiri berjajar berdekatan, salah seorang membelakangi temannya. Tugas teman
yang di belakang menjaga jatuhnya tubuh teman yang membelakanginya.
Tindakan menjatuhkan tubuh ke
belakang perlu keberanian dan KEYAKINAN yang kuat terhadap situasi dan kondisi.
PERCAYA akan orang lain dibelakang diri, bukan hal yang mudah. Tetapi bila
sudah kita lampaui, maka akan terbangun kepercayaan penuh kepada orang lain dan
berimbas percaya dengan diri sendiri. Ini yang kami tangkap dari pelatihan yang
sederhana.
Di sinilah para aktor harus meyakinkan diri
pada apa yang diperankan. Karena hakikat seni peran adalah MEYAKINKAN.
Meyakinkan lawan main dan meyakinkan penonton. Yakini dahulu apa yang kita
perankan itu adalah benar. Hal ini akan membuka stimulus berikutnya, berdialog
dengan yakin, melangkah dengan yakin, bergerak dengan yakin. Dan ending dari proses di atas adalah kita
tengah MENGHAYATI peran.
Ekplorasi-eksplorasi seni peran
yang ditempa dan diajarkan para senior berdampak pada psikologis pemain, bagaimana
cara berkata, cara mengucap, cara merasa, cara berdiri, cara berjalan, cara
memandang, cara “menjadi”. Banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri pemain, setelah melewati eksplorasi tersebut. Semua itu merupakan elemen
dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemain panggung.
“Dimanapun seorang aktor berdiri,
duduk dan tidurnya adalah ruang tempat melatih KEPEKAAN DAN INSTUISI”, ujar
mentor, Jarwo Jilid dalam pengarahannya di sela latihan olah tubuh. Kata-kata yang
menginspirasi dan memotivasi jiwa ke-seniman-an. Kata-kata itu saya bawa pulang
ke rumah, saya praktekkan dan saya analisa sendiri, tanpa ada dialetika dengan
mentor atau teman-teman. Sungguh benar
adanya, melatih kepekaan dan instuisi batin secara konsisten dan kontinyu menciptakan
alat/radar intuitif alam bawah sadar kita. Itu saya rasakan manfaatnya dalam
proses berkesenian. Radar intuitif ini harus dalam kendali, jika tidak kita
akan menjadi manusia “baperan” atau manusia “melow”.
Saya baru menyadari bahwa selama
ini saya merasakan keindahan bentuk, suara atau warna, berjalan dengan
sendirinya tanpa pemahaman yang berarti.
Literasi-literasi yang
disungguhkan oleh sutradara terkait dengan ilmu seni peran juga sangat
membantu. Teori atau pengetahuan memberikan ketajaman saat mempraktekkan sebuah
ilmu. Walau pun suatu ilmu dapat saja berjalan dengan sendirinya, tanpa
ditopang teori. Sungguh sangat berbeda
hasilnya.
Eksplorasi-eksplorasi yang
dilakukan saat latihan memberikan impact
yang tidak kecil bagi perkembangan pemain. Manfaatnya tidak hanya saat kita
membedah naskah, mengupas cerita, memasuki karakter peran, memainkan gestur tubuh,
menguasai panggung, menghipnotis penonton. Tetapi juga memberikan manfaat yang
lebih dari itu semua, membangun percaya diri, menghargai keberadaan, melihat
dan mendengar dengan rasa empatik. Memberi kematangan dan kedewasaan dalam
menjalani dan menyikapi hidup.