Senin, 21 Maret 2022

Anak Kampung Belajar Seni Peran

Tulisan ini terdapat pada buku Anak Kampung Bikin Teater yang merupakan sebuah buku memoar Teater Trotoar, Jakarta Timur.  Buku ini insha allah akan segera launching dalam waktu dekat.

Anak Kampung Belajar Seni Peran

Oleh Nino Enjo

               Memasuki ruang latihan dengan pikiran yang kosong dan hati yang masih berkecamuk, mau diajar apa? Beragam pertanyaan berseliweran di benak saya. Para senior Trotoar semua hadir, perkenalan demi perkenalan, pengarahan demi pengarahan berlangsung formal, visi misi dan tujuan sudah dipaparkan, tidak ada yang berkesan. Masuk sesi pelatihan olah tubuh, hanya seperti pemanasan biasa sebelum kita melakukan olah raga sesungguhnya, pikir saya. Pulang ke rumah dengan badan letih. Minggu berikut hal yang sama dilakukan.  Minggu berikutnya ditambah dengan berteriak teriak seperti orang gila.

Perkenalan dengan sosok sutradara adalah minggu-minggu berikutnya. Sosok lelaki ganteng   – sedikit baby face – berambut panjang, kadang diurai kadang diikat. Mengenakan baju kebesarannya berwarna putih, celana komprang putih. Bersendal tali kulit dan selalu datang membawa tas kulit coklat di bahunya. Terlebih saat latihan malam di parkiran, dengan lampu jalan temaram. Taxi datang menurunkan sosok yang sudah kita kenali dengan kostum putih-putihnya, sangat kontras dengan gelap malam saat itu, kehadirannya selalu ditunggu. Kesenimanannya tersirat jelas dengan tampilan slayer tenun di lehernya dan kaca mata Rayben. Kharismanya dapat dirasakan dari reaksi para senior yang menghormati beliau. Kecerdasannya terpancar dari jidatnya yang lebar,  matanya yang tidak besar, dan giginya yang putih rapih. Makin jelas lagi saat memberikan paparan apa pun itu. Kita para junior seperti haus akan ilmu, meminum apa yang diucapkan. Menyimak semua wacana yang diungkapkan.

Sebulan berlalu kita baru dikasih potongan naskah, karena tidak ada judul di halaman depan dan hanya beberapa lembar. Diajarkan membaca dan diajarkan mengucap, laiknya anak sekolah  pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bedanya membaca dan mengucapkan harus dengan “rasa”. Berulang-ulang seperti anak idiot yang merekam satu kata dan diucapkan berulang-ulang. Rupanya cara ini untuk mengetahui dan merasakan perbedaan intonasi yang keluar dari mulut, agar kita bisa memaknai apa yang kita ucapkan. Pulang ke rumah dengan rasa penasaran ingin segera berlatih lagi minggu depan.

Minggu berikutnya sebuah naskah diedarkan untuk dimiliki. Naskah Perguruan, saya belum mengerti siapa pengarangnya. Saya baca dimana ada nama-nama tokoh dan dialog tokoh tersebut. Saya tidak mendapat peran tokoh saat itu, karena masih “anak bawang”. Peran saya sebagai santri/pasukan Tuanku Nan Renceh. Mendengar dan menyimak setiap sesi reading naskah, sudah sangat menarik bagi saya. Mendengar teman-teman senior membacakan perannya dengan intens dan semangat, merupakan pelajaran duplikasi bagi pribadi. Keinginan mendapat dan membaca peran adalah keinginan bawah sadar, hal ini baru bisa terwujud bila ada rekan yang tidak hadir latihan. Dengan senang hati dan bersemangat membacakan peran tersebut. Inilah nasib “anak bawang”, anak kampung yang belajar seni peran.


 Eksplorasi Seni Peran

Berjalannya waktu pelajaran tentang seni peran betambah, dalam hal eksplorasi seni peran, para senior “menggembleng” anak-anak junior (anak kampung yang buta apa itu akting/seni peran), dengan pelatihan olah tubuh yang awalnya hanya gerakan-gerakan pemanasan. Mulai dari ujung kaki terus merambah sampai ke kepala, semua digerakan satu persatu dilakukan secara berurutan. Memasuki minggu-minggu berikutnya mulai meningkat, durasi latihan olah tubuh pun ditambah. Pola gerakan juga semakin berkembang. Kita para junior diberi pemahaman akan tujuan olah tubuh yang sebenarnya. Bahwa olah tubuh yang dilakukan bukan hanya menjadikan tubuh kuat, tetapi juga menjadi lentur, luwes dan ligat; demikian paparan pemahaman yang disampaikan mentor.

 Caci-maki mentor senior menjadi makanan yang harus ditelan sebagai pil pahit untuk obat bagi jiwa yang ‘cengeng’ saat itu. Karena para senior ada beberapa orang yang selalu simultan bergantian menjadi mentor, maka beragam pula serapah yang dilontarkan.  Tidak sedikit yang rekan-rekan yang beralasan datang terlambat pada sesi olah tubuh, lalu datang saat sudah reading naskah. Bahkan beberapa peserta tidak hadir lagi, mundur dari keanggotaan. Begitu kerasnya latihan teater, betapa sakitnya hati ini bila kita melakukan kesalahan. Namun secara tidak langsung seperti seleksi alam, mereka yang cinta dan fokus pada seni peran tak akan gentar.

 Keingintahuan saya akan seni peran lebih besar dari pada beratnya latihan olah tubuh. Pernah suatu waktu saya mengalami gelap mata saat berlatih, tubuh ini limbung tapi tidak sampai pingsan. Dengan merambat pada dinding gedung Sasana Krida saat itu, alaram biologis saya menuntun saya menuju ke toilet. Dengan mata masih terpejam, bertanya pada Solihin – anak penjaga gedung – di mana pintu toilet?.  Paska proses “pembersihan” kondisi kembali normal kembali. Sungguh tidak mudah.

 Dari minggu ke minggu pelatihan olah tubuh terus meningkat, kecintaan akan seni peran pun bertambah. Pemahaman demi pemahaman terus dituangkan oleh para mentor. “Jika militer menyiapkan senjatanya untuk berperang, maka seniman menyiapkan tubuhnya untuk berada di atas panggung.” Demikian perumpamaan yang didengungkan oleh para mentor dalam menguatkan mental dan mengentalkan pemahaman para anak kampung seperti saya saat itu.

 “Tubuh ini harus dimaksimalkan sedemikian rupa agar bisa dikendalikan. Jadikan tubuh ini seperti ‘spons’ agar bisa menyerap apa saja yang melintas di pikiran dan di sekeliling kita”, ujar Jarwo Jilid. Bukan tidak dengan tanpa tujuan latihan-latihan keras yang diterapkan para senior kepada para junior. Dalam sesi-sesi diskusi – seusai latihan – diterangkan bahwa  bahasa di atas panggung bukan cuma kata yang diucapkan, tetapi tubuh kita pun menjadi kata. Bahasa tubuh menjadi bahasa kedua setelah kata.

 Karena tubuh adalah bahasa, maka kita harus memahami setiap anggota tubuh saat digerakan. Gerakan-gerakan saat warming up oleh senior dijabarkan fungsi dan manfaatnya secara detail. Sungguh menarik, mungkin bagi orang lain akan terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi saya ini merupakan “pedalaman”,  sama seperti jalan pedang bagi samurai dalam buku Musasi.

 Saat itu terminologi yang dipakai adalah: Gerak dan Gerik. Gerak adalah gerakan/tindakan yang besar-besar seperti melompat, berlari, merentangkan tangan; sedangkan Gerik adalah gerakan/tindakan yang kecil-kecil seperti memainkan kuku jari, menggaruk, melirik, mengangguk atau menolehkan kepala perlahan.  

 Berlanjut latihan menuju “pendalaman” yang paling dalam, mengisi “ruh” pada setiap gerakan anggota tubuh. Bukan hal gampang, awal-awal memahami pelajaran seperti itu, bagi anak kampung seperti saya. Ada terbersit di hati, apakah ini akan bersinggungan  dengan agama. Maka diterangkanlah secara perlahan-lahan untuk bisa dapat dipahami. Ada dua proses yang harus dilalui:  “Merasakan” dan “Mengendalikan”  kedua kata itu merupakan kata kunci, bagaimana cara mengisi “ruh” dari setiap gerakan anggota tubuh.

 Melalui meditasi ala teater, yaitu dengan memejamkan mata dan mengosongkan pikiran dari semua aktivitas otak. Kita digiring untuk menuju sebuah “kekosongan” itu. Hal ini tidak mudah, namun karena terus dilatih dan dituntun oleh para mentor, secara bertahap kita dapat  mengerti hal itu. “Kekosongan” itu menggiring pikiran terfokus penuh menuju konsentrasi yang kuat dan stabil. Semakin fokus semakin kosonglah pikiran, maka saatnya melepas keinginan tubuh untuk bergerak sendiri kemana pun ia maui. Kami diminta – mentor – untuk terus mengikuti dan menikmati setiap pergerakan yang dilalui. Detik detik itu, adalah proses kita “merasakan” tubuh tanpa dikendalikan oleh pikiran. Tetapi oleh ‘rasa’ yang entah dari mana?  Saya merasakan keindahan yang menggeliat di dalam diri, merasuk ke dalam darah, menggetarkan syaraf dan memancing otot bergerak. Ada irama dan bunyi-bunyian dari dalam jiwa yang menuntun  tubuh ini bergerak dalam keindahan dan kenyamanan. Kadang ia bergerak lembut dan smooth, kadang ia menghentak-hentak seperti orang kerasukan. Sampai daya tak ada lagi, hingga lelah-lah yang menghentikan tubuh lunglai jatuh ke lantai, dan dengan masih memiliki kesadaran penuh. Proses tersebut memberi sensasi baru bagi saya dan bahkan otak ini seperti di-refresh, kembali segar dan siap dimasuki pelajaran-pelajaran berikutnya.

 Pelatihan semacam itu merupakan pelajaran yang berharga bagi kami anak kampung yang buta tentang seni peran. Pelajaran tersebut kami dapatkan lebih kurang 8 minggu, hingga kami mahir memasuki ruang bawah sadar kami masing masing.

 Pelajaran pun berlanjut, jika kita sudah dapat “Merasakan” tubuh bergerak tanpa kendali pikiran, maka pelajaran berikutnya adalah: “mengendalikan”  tubuh ini dengan pikiran yang kita inginkan. Proses yang dilakukan adalah mengisi ruang-ruang imaji (ruang-ruang bawah sadar) kita. Secara teori yang dipaparkan para mentor terdengar sangat mudah. Sebab kita sudah mempraktekkan pada pelajaran “Merasakan” sebelumnya.

 Akan tetapi ada halangan tersendiri untuk menerobos dan memasukkannya imaji-imaji yang belum pernah kita pikiran ke dalam alam bawah sadar kita. Hal ini terbaca oleh para mentor dalam pengamatannya, apa yang kita tampilkan: “mentah, belum menyatu”. Mereka jeli melihat hasil proses yang kita lakukan, karena imaji-imaji yang kita bayangkan hanya kamuflase-kamuflase dari pikiran-pikiran yang saling menumpuk di dalam kepala: masalah pribadi, masalah keluarga, masalah gebetan, cari kerjaan, dari pagi belum ngopi, belum ngerokok  dan segudang lagi lainnya.

 Perlu waktu berminggu-minggu untuk bisa memahami dan mempraktekkannya. Segala yang dilakukan dengan serius dan fokus, memberi hasil yang baik.  Itulah yang kita lakukan saat itu. Memasukki ruang bawah sadar seperti menikmati perjalanan di dalam ruang imaji. Keasyikan ini menjerumuskan prilaku menjadi ketidak-warasan, meski masih dalam koridor kewajaran. Tetap saja orang lain yang melihatnya sebuah ‘kegilaan’. Kita mau jadi apa saja dan kita mau ke mana saja, tidak ada lagi halangan. Tidak ada lagi ke-takut-an, tidak ada lagi ke-malu-an untuk melakukan apa saja. Hal ini pun sampai terbawa pulang  ke rumah. Keluarga dan tetangga hanya berceloteh “wis edan!”.

 Latihan-latihan olah tubuh yang keras, telah melenturkan tubuh-tubuh kami yang kaku bagai beton sebelumnya. Tubuh kami tidak hanya lentur, luwes dan ligat, tetapi telah “diisi” dengan pemahaman dan keindahan. Sehingga setiap gerakan punya tujuan, setiap tindakan punya makna. GESTURE TUBUH itu yang kita dapatkan untuk bisa memasuki dunia Seni Peran.

 

Seni Peran adalah seni berganti peran, memainkan diri kita menjadi orang lain. Bagaimana caranya? Latihan “Merasa” adalah jawaban untuk memasuki diri kita ke dalam peran. Membuka “kanal-kanal’ empatik kita terhadap peran tersebut. Informasi itu kita dapat dari bangunan cerita, atau dari sumber-sumber di luar naskah. Papar beberapa mentor dalam diskusi-diskusi kecil kami.

 Latihan menjadi burung, latihan menjadi pohon, latihan menjadi batu, jadi bangku, jadi kodok, jadi ayam dan lain sebagainya. Rupanya untuk membuka reseptor indera empatik kita terhadap sesuatu di luar diri. Kemampuan bawah sadar ini yang tidak kami sadari sebagai anak kampung. Padahal kalau kita menonton film yang sedih, kita akan terbawa arus kesedihan. Jadi latihan ini untuk membuka dan mengendalikan stimulus lingkungan/situasi yang ada di dalam dan di luar diri kita. Setelah mengetahui maka yakinilah. Meyakinkan apa yang sudah kita ketahui sangat penting. Bahkan menjadi kata kunci: YAKIN.

 Pada sesi-sesi latihan berikutnya kami di beri pelajaran tentang YAKIN. Lebih tepatnya PERCAYA. Ketika kita percaya sesuatu, akan muncul keyakinan akan sesuatu. Secara teoritis kami hanya bisa mengerti, tapi belum bisa memahami dan merasakannya. Mentor-mentor kami memberikan peragaan yang sangat sederhana, tetapi sangat mengena dan mempengaruhi psikologi kami.  Kami berdiri berjajar berdekatan, salah seorang membelakangi temannya. Tugas teman yang di belakang menjaga jatuhnya tubuh teman yang membelakanginya. 

 Tindakan menjatuhkan tubuh ke belakang perlu keberanian dan KEYAKINAN yang kuat terhadap situasi dan kondisi. PERCAYA akan orang lain dibelakang diri, bukan hal yang mudah. Tetapi bila sudah kita lampaui, maka akan terbangun kepercayaan penuh kepada orang lain dan berimbas percaya dengan diri sendiri. Ini yang kami tangkap dari pelatihan yang sederhana.

  Di sinilah para aktor harus meyakinkan diri pada apa yang diperankan. Karena hakikat seni peran adalah MEYAKINKAN. Meyakinkan lawan main dan meyakinkan penonton. Yakini dahulu apa yang kita perankan itu adalah benar. Hal ini akan membuka stimulus berikutnya, berdialog dengan yakin, melangkah dengan yakin, bergerak dengan yakin. Dan ending dari proses di atas adalah kita tengah MENGHAYATI peran.       

 Ekplorasi-eksplorasi seni peran yang ditempa dan diajarkan para senior berdampak pada psikologis pemain, bagaimana cara berkata, cara mengucap, cara merasa, cara berdiri, cara berjalan, cara memandang, cara “menjadi”. Banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi pada diri pemain, setelah melewati eksplorasi tersebut. Semua itu merupakan elemen dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemain panggung.

 “Dimanapun seorang aktor berdiri, duduk dan tidurnya adalah ruang tempat melatih KEPEKAAN DAN INSTUISI”, ujar mentor, Jarwo Jilid dalam pengarahannya  di sela latihan olah tubuh. Kata-kata yang menginspirasi dan memotivasi jiwa ke-seniman-an. Kata-kata itu saya bawa pulang ke rumah, saya praktekkan dan saya analisa sendiri, tanpa ada dialetika dengan mentor atau teman-teman.  Sungguh benar adanya, melatih kepekaan dan instuisi batin secara konsisten dan kontinyu menciptakan alat/radar intuitif alam bawah sadar kita. Itu saya rasakan manfaatnya dalam proses berkesenian. Radar intuitif ini harus dalam kendali, jika tidak kita akan menjadi manusia “baperan” atau manusia “melow”.

 Saya baru menyadari bahwa selama ini saya merasakan keindahan bentuk, suara atau warna, berjalan dengan sendirinya tanpa pemahaman yang berarti.

 Literasi-literasi yang disungguhkan oleh sutradara terkait dengan ilmu seni peran juga sangat membantu. Teori atau pengetahuan memberikan ketajaman saat mempraktekkan sebuah ilmu. Walau pun suatu ilmu dapat saja berjalan dengan sendirinya, tanpa ditopang teori.  Sungguh sangat berbeda hasilnya.

 Eksplorasi-eksplorasi yang dilakukan saat latihan memberikan impact yang tidak kecil bagi perkembangan pemain. Manfaatnya tidak hanya saat kita membedah naskah, mengupas cerita, memasuki karakter peran, memainkan gestur tubuh, menguasai panggung, menghipnotis penonton. Tetapi juga memberikan manfaat yang lebih dari itu semua, membangun percaya diri, menghargai keberadaan, melihat dan mendengar dengan rasa empatik. Memberi kematangan dan kedewasaan dalam menjalani dan menyikapi hidup.